DI BALIK KERASNYA BATU

April 25, 2007

DI BALIK KERASNYA BATU

Bulan lalu. Siswa SMART Ekselensia Indonesia mengadakan daurah Al-Qur’an dibimbing langsung oleh sang guru. Satu acara favorit yang khusus di adakan pada malam hari dengan pusat kegiatan ada di Masjid Al-Insan.

Malam itu berbeda sekali dengan malam-malam sebelumnya. Mereka (siswa SMART EI) letih sekali setelah sepekan mengadakan Sport and Performance Day. Muka-muka yang biasa cerah, nampak berkerut laksana daun layu. Gerutan-gerutan kecil menghias dahi-dahi mereka seakan menjalar membentuk jalan-jalan peredaran darah dengan arus deras dan antrian panjang bagi sisa-sisa makanan yang sudah mengeras seperti batu, menuju jalan keluar.

Peristiwa besar terjadi seketika. Arena pertarungan malam itu kembali. Mengalahkan semua ketegangan-ketegangan. Melupakan misteri-misteri mimpi. Semua harus bangun dan bangkit untuk bertarung. Merapatkan barisan dan berperang. Wajah-wajah itu berubah menjadi rahib.

Lihatlah di antara mereka ada yang sedang berdiri tegak di hadapan batu. Tangannya mengepal keras. Giginya gemertakan mengalunkan musik kemarahan, kakinya mengejang menekan bumi dan matanya jalang menembus gelap malam.

Batu : Wahai manusia! Apa yang sedang kau lakukan?

Siswa : Aku ingin menghajarmu.

Batu : Hahaha… tanganmu sungguh lemah. Kau tidak akan bisa melakukannya

Siswa : Kau boleh tertawa. Tapi lihat nanti apa yang akan aku lakukan!

Batu : Tidak. Kau bahkan harus melihat dirimu. Bukan aku.

Siswa : Maksudmu? (terperangah keheranan)

Batu : Apakah kau tidak menyadari?

Siswa : Tanganku memang tidak bisa. Tapi aku masih punya otak.

Batu : Bukan

Siswa : Aku akan mengambil palu untuk menghancurkanmu.

Batu : Bukan juga itu yang kumaksud.

Siswa : Lalu? (ia semakin dibuat tidak mengerti)

Batu : Aku lebih mulia dari kau.

Siswa : Hahaha… (ia tertawa sambil menginjaknya)
Siswa : Lihat dirimu. Tidakkah kau sadari begitu mudah manusia menghinakanmu. Seperti sekarang yang aku lakukan ini?

Batu : tidak, ti…ti…tidak. (isak tangis pun membuncah)

Siswa : Lihat ini, palu hadiah untukmu!

Prakkk… bunyi benturan palu pada batu. Tangis pun kian menjadi

berubah menjadi mata air kehidupan

Batu : Alhamdulillah. Lihatlah diriku apa yang telah kulakukan untukmu?
Siswa : Hahaha… kini kau memutar kata-kataku untuk dirimu. Sebentar lagi kauakan dicabik-cabik oleh tangan-tangan manusia. Kau akan ditumbuk danditumpuk menjadi satu. Diaduk dengan semen menjadi bahan bangunan, gedung-gedung, jembatan dan hahaha… tempat manusia membuang kotoran.

Ia terus tertawa dan menari. Mengejek dan mengolok. Mencaci-maki dan menghinakan batu. Mengambil anak-anaknya, batu-batu kecil bebentuk kerikil-kerikil. Ia melemparnya ke sembarang tempat.

Tidak lama kemudian. Datang seorang guru dan menghampiri batu itu…

Guru : Terima kasih. Engkau telah memberikan kami kemulianmu. (sang guru

menyodorkan tangannya dan berwudhu dari mata air yang mengalir deras dari celah-celah gigi-gigi milik batu.

Batu : Untukmu pula kemulian. Tanganmu sungguh lembut dan hatimu jauh

lebih lembut. Tidak seperti aku yang keras.

Guru : Tidak. Kau bahkan lebih lembut dari manusia seperti aku.

Batu : Manusia menjadikanku perumpamaan yang buruk. Mereka mengatakan,

janganlah kamu menjadi seperti batu yang keras, atau hatimu sekeras batu…

Guru : Bahkan lebih keras darimu!

Batu : Kenapa?

Guru : Sekeras-kerasnya dirimu, kau masih mau memberi kehidupan bagi

manusia. Kau memberi mereka mata airmu.

Batu : Apakah dengan perbuatanku itu bisa mengantarkanku masuk surga?

Guru : Wallahu a’lam

Batu : Aku menjadi bahan bakar api neraka.

Guru : dan juga manusia.

Batu : Mengapa aku dilibatkan. Tidakkah manusia saja yang suka berbuat

maksiat sementara aku tidak pernah. Aku selalu menolong manusia dan

tidak pernah membalas kejahatan manusia.

 

Sang guru duduk terdiam seketika. Ia menyudahi wudhunya dan bersimpuh. Air matanya menganak sungai. Lama sekali. Kelu tanpa kata-kata. Malam pun ikut terdiam. Detak jantungnya seakan berhenti. Tidak lagi terdengar suara-suara angkuh kejahatan malam. Ribuan cahaya turun ke bumi menerangi wajah-wajah manusia yang basah dengan air wudhu, menghantarkan energi cahaya dan menghidupkan hati-hati manusia.

Guru : Maafkan aku. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku hanya

menyerahkan semua urusan ini kepada Yang Maha Kuasa.

 

Jawaban sang guru itu sekaligus mengakhiri ritual wudhunya di sungai batu sambil berlalu meninggalkannya. Sementara itu seorang siswa yang sudah ada terlebih dahulu terpaku memperhatikan episode hidup yang disaksikannya. Siswa itu langsung bersimpuh dan mencium batu itu…

 

 

Syahid Abdul Qodir Thohir

Trainer ‘n Teacher Quranuna Club.

https://quranuna.wordpress.com or http://quranuna.multiply.com

e-mail : mulazamah@telkom.net //syahid_java@yahoo.com

 

(Dalam tadabur Al-Qur’an surah Al-Baqarah (2) : 74, dan surah At Tahriim (66) : 6)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: