PASIR ANAK-KU

Januari 29, 2009

Shah Alam (Malaysia)
Saya berada di Asrama anak yatim, Bukit Naga. Tidak seperti biasanya, suasana ramai bersama anak-anak Asrama Haluan Penyanyang (AHP), kali ini sepi. Mereka semua balik kampung karena cuti (liburan) sekolah selama sebulan lebih. Saya memeanfaatkan waktu dengan membersihkan halaman asrama. Olahraga pagi dengan menyapu. Banyak sekali pasir-pasir berserakan mengingatkan akan isteri dan anak-anakku di Indonesia. Terutama jundiku yang kedua, Muqri.

Saya merindukan saat intens bersamanya. Hampir setiap hari ada saja ide-ide dalam menanmkan nilai-nilai Al-Quran ke dalam jiwa anak-anakku. Salah satu epidose hidup yang menarik ketika Muqri meminta bermain pasir di halaman asrama (saat itu kami sekeluarga tinggal di Asrama Guru). Ia merengek-rengek agar bermain pasir padahal waktu maghrib hampir tiba. Saya berusaha membujuknya agar menunda hasratnya. Saya berjanji jika ia bersabar, besok pagi saya akan menemaninya bermain pasir sepuasnya.

Pagi tiba. Muqri terjaga dan belum lagi mandi, ia langsung menagih janji untuk bermain pasir bersama. Kami berdua turun ke halaman asrama menuju tumpukan pasir yang sedang digunakan untuk membangun dapur baru asrama. Saya menatap tajam tumpukan pasir, menerawang jauh ke belakang mengingat-ingat masa kecilku dulu.Kira-kira permainan yang menarik dan berkesan bagiku saat kecil mungkin juga akan menarik bagi  anakku sekarang ini.

Sembari terus menatap pasir dan menyaksikan Muqri yang sedang asyik bermain pasir sejak awal. Tiba-tiba saya teringat satu permainan. Segera  saya mengeruk pasir membuat lubang-lubang kecil merangkai tiga huruf yang berbunyi ‘GUA’. Exciting. Sambil berimajinasi seakan tumpukan pasir itu sebagai gunung dan lubang-lubang kecil laksana gua di lereng-lereng gunung. Satu kata yang belum pernah Muqri mengucapkannya, menambah glossary dalam kamus otaknya.

Muqri terus asyik bermain gua. Saya menggerakkan jari-jari tangan seumpama kaki-kaki manusia sedang berjalan mendaki gunung dan berehat masuk ke dalam gua. Saya memperkenalkan nama gua tersebut dengan gua HIRA. Saya pun menjelaskan tentang gua hira dimana wahyu pertama kali diturunkan. Saya pun membacakan 5 ayat pertama dari Surah Al-‘Alaq dengan penekanan pada kata ‘IQRO’; bacalah, bacalah dan bacalah. Begitulah permainan pagi itu berlalu membawa kepada suasana yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Hanya karena keinginan untuk mendidik anak dengan Al-Quranlah yang melahirkan permainan bermakna tersebut.

Selepas mandi pagi. Ummi Muqri sambil menyuap makanan bertanya padanya; “Muqri, barusan bermain apa dengan Abi?” serta merta Muqri menjawab; “Gua Hira…”

Kenangan Bersama Muqri di usia 3 tahun.
Salam Rindu dari Abi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: