MISTERI PAGI

Maret 2, 2009

Shah Alam, 02-03-2009

Kini anak-anak yang dulu masih imut-imut, yang dulu masih duduk di bangku SMP SMART EI. Ya dulu tahun 2004, semua sudah duduk di SMU SMART EI di akhir tahun. Sebentar lagi mereka harus tinggalkan bangunan itu. Masing-masing akan membawa dirinya. Mungkin ada yang terus sambung kuliah. Mungkin juga bekerja karena harus membantu menghidupi keluarga, karena harus membantu adik-adiknya yang masih banyak lagi.

Di tengah kemungkinan-kemungkinan yang ada, maksudku yang terbayang di dalam benakku. Kuberharap ada di antara mereka yang benar-benar aktif mengajar Al-Quran. Saya percaya, mereka boleh mengajar atau membimbing anak-anak kecil atau mungkin orang yang sebaya, membimbing mereka untuk bisa baca Al-Quran. Kalau mereka kuliah, mereka boleh aktif mengajari teman-teman kuliahnya agar bisa baca Al-Quran dengan baik dan benar. Saya masih saja dirundung sedih karena betapa banyak ummat Islam yang belum bisa baca Al-Quran terutamanya di Indonesia, negeriku tercinta.
Wallahu a’lam, kalau saja kita survey pastinya jumlah orang yang bisa baca Al-Quran dengan yang tidak atau belum bisa Al-Quran sungguh tidak sebanding. Sepatutunya kita orang yang sudah memiliki pemahaman Islam yang baik dan benar, harus ikut menghidupkan “HIDUP DI BAWAH NAUNGAN AL-QURAN”.

Jika anda mahasiswa, masih banyak mereka yang belum bisa baca Al-Quran (ma’af bukan menuduh tapi mensinyalir), maka anda yang sudah fasih bacaannya buatlah program-program pemberantasan Buta Huruf Al-Qur’an.

Jika anda guru, maka sungguh masih banyak juga guru-guru yang belum fasih membaca Al-Quran, buatlah pengajian HARIAN atau mingguan untuk kelas Al-Quran. Kalau gurunya tidak bisa baca Al-Quran, gimana murid-muridnya yah….!!

Jika anda kepala sekolah, yah gimana caranya supaya orang-orang yang terlibat di dalam wilyah otoritas anda (guru, karyawan, pelajar) agar bisa baca Al-Quran. Saya malah pernah terbayang, waktu duduk di bangku SMP tahun 1991, mayoritas gurunya tidak bisa baca Al-Quran dan terbukti berganti-ganti kepala sekolah pun, justeru mereka sebagai pimpinan malahan tidak pandai baca Al-Quran. Teman-temanku waktu itu juga yang satu angkatan, lebih dari 90 persen tidak bisa baca Al-Quran.

Jika anda siapa saja; dosen, karyawan, kerja kantoran, kerja keluyuran, direktur, saudagar bawang, pedagang kaki lima, tukang jagal, ibu rumah tangga, TKW, wanita karir, atau pun kurir, berpikirlah Saya harus bisa Baca Al-Quran atau membantu orang lain supaya bisa baca Al-Quran.

Kemudian tidak berhenti sampai di situ, kita harus mengamalkannya, menegakkannya dan menjadikannya pegangan hidup kita dalam segala hal.

Pagi Seharum Kasturi

Kembali duduk bersilah di hadapan pelajar-pelajar SMP SMART EI masa itu. Lima belas menit sebelum shubuh. Satu per satu pelajar-pelajar itu harus bertalaqqi (baca Al-Quran di depan guru, didengar dan diperdengarkan).

Masa-masa paling indah yang pernah kurasakan dan tidak akan terlupa untuk selamanya. Gerak mulut dari setiap pelajar masih bermain di ingatan. Betapa susahnya seorang siswa mengucapkan Sin tanpa titik karena semua udara dalam mulutnya sebab pongah (ompong tengah), bahkan terlalu sering saya kena ‘siraman’ mulutnya. Menebar aroma pagi seharum kesturi. Dan ada juga seorang siswa yang memecah rekor dalam keterlambatan bangun pagi. Itu pun alhamdulillah, tetap bangun sebelum shubuh.

Lain lagi ceritanya dengan PESAN (Pesantren Alam Mingguan). Ini kenangan bersama santri-santri Pondok Pesantren Terpadu Al-Hikmah Boyolali pada tahun 2000.

Masa itu saya setting kegiatan mingguan untuk pelajar-pelajar SD dan SMP yang ada di sekitar pondok. Isi kegiatan; bermalam di pondok, qiyamullail dan caraka malam. Salah satu yang menarik adalah saat keluar malam dan seluruh pelajar harus singgah ke masjid atau surau yang ada di sekitar kampung untuk membaca Al-Quran atau tahiyyatul masjid. Dilanjutkan menyeberangi sungai berbatu layaknya sungai pegunungan. Turun curam dan naik pun harus berhati-hati, licin dan gelap. Memang masa itu tak terpikir bahayanya dan alhamdulillah selamat dan berjaya. Di seberang sungai sana ada hamparan sawah padi yang baru saja dipanen. Disitulah saya bersama pelajar-pelajar mendirikan qiyamullail diiringi gerimis saat Ath-Thoriq surah ke-86 dan Al-Lail surah ke-92 dibacakan di dalam sholat.

Selanjutnya, keindahan-keindahan itu kini lahir dalam tulisan-tulisanku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: